LAPORAN PELAKSANAAN
GERAKAN PERCEPATAN PENGANEKARAGAMAN KONSUMSI PANGAN ( P2KP ) TAHUN 2012 DI KELOMPOK WANITA
TANI IBU MANDIRI
DESA POHGADING
KABUPATEN LOMBOK TIMUR
oleh:
ZAENUDDIN
Penyuluh Pendamping
DESA POHGADING KECAMATAN PRINGGABAYA
KABUPATEN
LOMBOK TIMUR
2012
KATA
PENGANTAR
Puji
syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat rahmat dan
hidayah-Nya, Laporan Pelaksanaan Kegiatan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi
Pangan (P2KP) Tahun 2012 di Desa Pohgading Indah Kecamatan Pringgabaya dapat diselesaikan.
Melalui kesempatan ini disampaikan ucapan terima kasih kepada Kepala
Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Lombok Timur atas kepercayaan mengalokasikan
kegiatan ini di Desa Pohgading dan semua pihak yang turut membantu serta
berpartisipasi mulai dari proses perencanaan, pelaksanaan hingga penyusunan laporan ini.
Disadari masih banyak kelemahan dalam pelaksanaan dan kekurangan dalam
laporan ini, sehingga saran konstruktif dari berbagai pihak sangat diharapkan
demi penyempurnaan dan keberlanjutan program tahun berikutnya.
Taman Indah, 28 Desember 2012
Penyuluh Pendamping,
I
PENDAHULUAN
1.1. Latar
Belakang
Menurut UU Pangan Nomor 7 tahuan 1996 pasal 1 ayat 17, ketahanan pangan
didefinisikan sebagai kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang
tercermin dari tersedianya pangan yang cukup dalam jumlah, mutu, aman, merata
dan terjangkau. Sedangkan menurut World Food Conference on Human Right 1993 dan
World Food Summit 1996 adalah kondisi terpenuhinya kebutuhan gizi setiap
individu dalam jumlah dan mutu agar dapat hidup aktif dan sehat secara
berkesinambungan sesuai dengan budaya setempat.
Sedangkan menurut Peraturan
pemerintah Republik Indonesia Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan
disebutkan bahwa masyarakat memiliki kesempatan untuk berperan seluas-luasnya
dalam mewujudkan ketahanan pangan melalui pelaksanaan produksi, perdagangan dan
distribusi; penyelenggaraan cadangan pangan masyarakat; serta pencegahan dan
penanggulangan masalah pangan.
Ketahanan pangan merupakan suatu wujud dimana masyarakat mempunyai
pangan yang cukup di tingkat wilayah dan juga di masing-masing rumah tangga,
serta mampu mengakses pangan dengan cukup untuk semua anggota keluarganya,
sehingga mereka dapat hidup sehat dan bekerja secara produktif.
Ada dua prinsip yang terkandung dalam ketahanan pangan, yaitu tersedianya
pangan yang cukup dan kemampuan (daya beli)
rumah tangga untuk mengakses pangan.
Pembangunan ketahanan pangan pada
tahun 2012 memiliki sasaran antara lain :
(1) peningkatan konsumsi pangan beragam, bergizi seimbang dan aman
berbasis pangan lokal dan berkurangnya konsumsi beras 1,5 persen tiap tahun,
(2) pengurangan jumlah penduduk rawan pangan 1 persen tiap tahun dan antisipasi
rawan pangan transien dengan dinamisasi SKPG plus, (3) stabilisasi harga pangan
pokok di tingkat produsen dan penguatan cadangan pangan Gapoktan dan cadangan
pangan masyarakat rawan pangan,
Salah satu upaya pemerintah untuk mencapai
sasaran tersebut, adalah melaksanakan
kegiatan Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) sejak tahun
2010, dengan empat
kegiatan yakni: (1) demonstrasi (demplot) pemanfaatan pekarangan, (2) optimalisasi
pemanfaatan pekarangan keluarga, (3) kebun bibit desa dan (4) sekolah lapang
(SL) P2KP
Rendahnya pemilikan sumberdaya lahan dan asset lainnya, kualitas sumberdaya manusia
(pendidikan formal) di rumah tangga relatif rendah, akses terhadap sumber modal
tidak ada, dan akses terhadap sumber informasi terkendala merupakan salah satu faktor masih lemahnya ketahanan
pangan di tingkat rumah tangga.
Berdasarkan kondisui tersebut, maka
Desa Taman Indah Kecamatan Pringgarata salah satu desa yang mendapat alokasi kegiatan P2KP pada tahun 2012 dengan
sasaran 25 orang ibu rumah tangga miskin yang tergabung dalam kelompok wanita
tani ( KWT) “ Ibu
Mandiri “..
1.2 Rumusan
Masalah
a. Bagaimana
pelaksanaan demplot pemanfaatan pekarangan di KWT Ibu Mandiri
b. Bagaimana
pelaksanaan optimaslisasi pemanfaatan pekarangan keluarga oleh anggota KWT Ibu
Mandiri
c. Bagaimana
pelaksanaan kebun bibit desa ( KBD)
d. Bagaimana
pelaksanaan Sekolah lapang (SL) P2KP di KWT Ib Mandiri.
1.3. T u j u a n
a. Untuk mengetahui hasil
pelaksanaan demplot pemanfaatan pekarangan di KWT Ibu Mandiri
b. Untuk
mengetahui hasil pelaksanaan
optimaslisasi pemanfaatan pekarangan keluarga oleh anggota KWT Ibu Mandiri
c. Untuk
mengetahui hasil pelaksanaan kebun bibit
desa ( KBD)
d. Untuk
mengetahui hasil pelaksanaan Sekolah lapang (SL) P2KP di KWT Ibu Mandiri
II METODE
PELAKSANAAN
2.1 Lokasi dan
Waktu
Kegiatan P2KP dilaksanakan di Desa Taman Indah Kecamatan Pringgarata
Kabupaten Lombok Tengah mulai bulan Januari
sampai dengan Desember 2012
2.2 Sasaran
Sasaran penerima manfaat kegiatan P2KP adalah Ibu Rumah Tangga miskin
anggota Kelompok Wanita Tani Ibu Mandiri
sebanyak 25 orang
2.3 Kegiatan
Pemberdayaan kelompok wanita penerima manfaat tahun 2012, mengembangkan
demplot pekarangan percontohan kelompok yang menjadi sarana pelaksanaan Sekolah
Lapangan (SL), mengembangkan kebun bibit kelompok yang pada saatnya nanti akan
menjadi kebun bibit desa dan mengembangkan pekarangan masing masing anggota
kelompok.
2.4 Alat dan
Bahan
a. Benih
sayuran
b. Pupuk
organik (kompos) dan Pupuk An Organik
(Urea + Phonska)
c. Polybag
d. Jaring
pengaman
e. Plastik
sungkub
f. Bambu
g. Gembor
h. Materi
pemberdayaan dalam bentuk folder/leaflet/ KIT.
2.5 Evaluasi
Pelaksanaan evaluasi bertujuan untuk
mengetahui tingkat perubahan perilaku
sasaran sebelum dan setelah mengikuti
sekolah lapang. Evaluasi dilakukan terhadap 25 orang responden anggota kelompok wanita tani Ibu Mandiri. Sebelum dilaksanakan sekolah lapang tingkat pengetahuan awal sasaran / responden diukur melalui tes
awal (pree test) dengan mangajukan
daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan (Lampiran 1), Setelah dilaksanakan sekolah
lapang, responden kembali diukur
pencapaian tingkat pengetahuan melalui
tes akhir (post test) dengan menjawab
quisioner seperti pada tes awal.
Evaluasi terhadap hasil pelaksanaan sekolah lapang, diukur dengan cara membandingkan jumlah nilai rata-rata hasil tes awal dan tes akhir dengan soal
sebanyak 15 pertanyaan. Setiap soal jawaban yang paling benar nilainya 3 dan paling rendah nilainya 1, sehingga akan diperoleh
interpretasi skor / nilai minimal 15 dan nilai maksimal 45
Dari
interpretasi skor minimal dan maksimal, tingkat pengetahuan responden dikategorikan sebagai berikut:
Kurang ≤ 25
26 < Sedang ≤ 35
36 < Baik ≤
45
Selanjutnya peningkatan pengetahuan responden hasil pelaksanaan sekolah lapang, dianalisa tingkat efektifitasnya menggunakan kriteria prosentase
efektifitas menurut Ginting (2004) sebagai
berikut:
Efektifitas Pengetahuan =
Efektifitas Program SL =
Keterangan:
Ps = Post test
Pr = Pre test
N = Jumlah responden
G = Nilai tertinggi
Q = Jumlah
pertanyaan
100% = Pengetahuan yang ingin dicapai
Ps – Pr = Peningkatan pengetahuan
NGq – Pr =
Nilai kesenjanagan
NGq = Nilai Maksimal
Target
Program SL = Skor Maksimal x
Pengetahuan Setelah SL =
Nilai Tes akhir
Presentase efektifitas pengetahuan dan program Sekolah Lapang dikategorikan sebagai berikut:
Kurang Efektif ≤ 33,33 %
33,33 % ˂ Cukup Efektif ≤ 66,66 %
66,66 % ˂ Efektif ≤
100 %
III HASIL DAN
PEMBAHASAN
3.1 Pemberdayaan Kelompok Wanita
Pemberdayaan kelompok wanita ini
dimaksudkan untuk : (1) meningkatkan pola pikir, keterampilan dan perubahan
pola sikap kelompok wanita dalam mengkonsumsi pangan beragam, bergizi seimbang
dan aman; (2) meningkatkan keterampilan kelompok wanita dalam menyusun,
mengolah dan menyajikan menu makanan beragam, bergizi seimbang dan aman dengan
memanfaatkan bahan pangan hasil pekarangan sendiri dan mengurangi sajian nasi
dalam menu makanan sehari-hari, dan (3) meningkatkan citra positif pangan
sumber karbohidrat non beras dan non terigu.
3.2 Optimalisasi Pemanfaatan Pekarangan (Demplot dan SL P2KP)
Kegiatan optimalisasi pemanfaatan
pekarangan dilaksanakan dengan metode Sekolah Lapangan (SL). Metode ini
menggunakan pendekatan praktek langsung (Self Learning) dalam pengembangan
pekarangan mulai dari aspek budidaya hingga pengolahan hasil pekarangan (from
farm to table) dengan tetap memperhatikan kebutuhan gizi keluarga
sehari-hari dan kelestarian lingkungan.
Tujuan dari kegiatan ini antara
lain untuk mengoptimalkan pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan
keluarga, serta meningkatkan
pengetahuan, keterampilan dan kemampuan kelompok wanita dalam memanfaatkan
bahan pangan yang ada di pekarangan untuk diolah sebagai menu sehari-hari
Dalam SL-P2KP terdapat satu
demplot/kebun kelompok yang merupakan
Laboratorium
Lapanganan (LL) tempat anggota kelompok berlatih menemukenali, mengungkapkan
pengalaman dan penarikan kesimpulan
serta melaksanakan seluruh tahapan SL-P2KP dibimbing oleh penyuluh pendamping setempat
sesuai dengan karakteristik daerah masing – masing. Proses
belajar mengajar dilaksanakan satu minggu sekali selama 10 (sepuluh) kali
pertemuan).
Sosialisasi dilakukan oleh penyuluh pendamping P2KP
desa, pendamping P2KP kabupaten, dan aparat kabupaten, dengan menggunakan alat
bantu berupa Kit (alat peraga/modul dll) atau media sosialisasi lainnya. Hasil
pelaksanaan disajikan dalam lampiran.
3.2.1 Materi
Materi
yang disampaikan yakni: (1) pemanfaatan pekarangan sebagai sumber pangan
dan gizi keluarga, (2) konsep pekarangan
terpadu (5 fungsi pekarangan), (3) teknik budidaya sayuran, (4) pembuatan
Pupuk Kompos, (5) pemeliharaan unggas
(ayam), (6) menyusun menu beragam, bergizi seimbang dan aman bagi keluarga,(7)
pengenalan URT (ukuran rumah tangga) bahan pangan, (8) penanganan panen dan
pasca panen sayuran, (9) keamanan pangan segar (sayuran), (10) aneka jenis dan
kreasi pengolahan hasil sayuran, buah, umbi-umbian dan ternak unggas serta
materi pendukung peningkatan kapasitas
kelembagaan kelompok wanita tani .
Alasan penetapan materi tersebut antara lain: (1) areal pekarangan
anggota telah siap tanam , (2) benih
sayuran telah tersedia dan telah disemai, (3) tingkat pengelolaan pekarangan belum optimal, karena pengetahuan
pelaku utama masih terbatas, (5) sesuai dan menunjang program P2KP, (6) mudah dilaksanakan,
resiko kegagalan kecil, biaya murah dan
tidak bertentangan dengan adat istiadat setempat serta (7) sinkron
dengan programa penyuluhan pertanian/ rencana kerja tahunan penyuluh Desa Taman Indah.
Kartasapoetra (1987), juga menambahkan syarat materi penyuluhan : (1) sesuai dengan kebutuhan sasaran, (2)
sesuai dengan tingkat kemampuan sasaran, (3) memberi atau mendatangkan
keuntungan ekonomis, (4) mengesankan dan merangsang petani untuk melakukan
perubahan cara berfikir, cara kerja dan cara hidup menuju perkembangan dan
kemajuan, (5) bersifat praktis dan dapat dilaksanakan sehingga mendorong
kegiatannya serta (6) mampu menggairahkan sehingga petani merasa terbujuk untuk
selalu memperhatikan, menerima, mencoba dan melaksanakan dalam kegiatan usahatani.
3.2.2 Sasaran
Pelaku utama wanita anggota
KWT Ibu Mandiri sejumlah 25 orang
yang menjadi peserta penerima manfaat
program P2KP dan memiliki lahan pekarangan siap tanam. Hal ini sesuai dengan amanat UU SP3K No.16 tahun 2006 dalam bab III pasal 5,
dinyatakan bahwa sasaran penyuluhan pertanian adalah pelaku utama dan pelaku
usaha serta pelaku antara.
3.2.3 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dalam penyuluhan pertanian adalah meningkatnya
pengetahuan dan keterampilan pelaku utama dalam hal mngelola dan
memanfaatkan pekarangan sebagai sumber gizi keluarga, sehingga dapat mempercepat penerapan penganekaragaman konsumsi pangan
keluarga serta meningkatkan kehidupan yang
lebih sejahtera (Kartasapoetra, 1987).
3.3.4 Media
Media penyuluhan yang digunakan
adalah folder dan benda sesungguhnya berupa demplot pemanfaatan pekarangan.
Media folder dapat
dan mudah dibawa kemana-mana sehingga dapat dibaca berulang kali dan dipelajari setiap ada kesempatan dan demplot dapat berfungsi sebagai tempat belajar akan memberi kesan dan pemahaman yang lebih
nyata. Efektifitas penggunaan media penyuluhan
pertanian sangat ditentukan oleh banyaknya indera penerimaan yang
terlibat. Semakin banyak indera yang digunakan,
penyampaian pesan penyuluhan semakin mudah diterima dan dimengerti. (Deptan,
2002).
Arsyad (2003), juga menyatakan bahwa dalam memilih
media penyuluhan kriteria yang patut diperhatikan antara lain: (1) sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai, (2) tepat untuk mendukung isi pelajaran yang
sifatnya fakta, konsep, prinsip atau
generalisasi, (3) praktis, luwes, dan bertahan dalam jangka waktu yang lama,
(4) komunikator terampil dalam menggunakannya, (5) sesuai dengan jumlah sasaran
baik jumlah maupun kemampuan (6) mutu teknis baik.
3.2.5 Metode dan Teknik
Metode dan teknik penyuluhan yang digunakan adalah
langsung dan tidak langsung melalui
pendekatan kelompok, dengan ceramah,
diskusi dan praktek yang dikombinasikan. Pendekatan kelompok lebih efesien dalam pembinaan oleh penyuluh melalui tatap muka langsung dan berdialog serta melakukan bimbingan
praktek melalui anjangsana/kunjungan rumah secara perorangan. Ceramah salah satu metode penyuluhan yang
paling sederhana dan sering digunakan karena dapat dilakukan kapan dan dimana
saja. Diskusi
kelompok memberi kesempatan kepada sasaran saling
tukar pengalaman dan informasi, memperjelas
pesan yang belum dipahami sebelumnya, serta demonstrasi untuk memberi
kesempatan responden melakukan pekerjaan secara langsung dalam melatih
keterampilannya.
3.2.6 Hasil Evaluasi
a. Indikator Masukan (inputs)
Masukan (inputs) adalah segala sesuatu yang
dibutuhkan/dipergunakan seperti: sumber
daya manusia, dana, materi, teknologi, lahan dan waktu agar pelaksanaan
kegiatan atau program dapat berjalan dalam rangka menghasilkan outputs.
Kelompok Wanita Tani Ibu Mandiri memiliki lahan pekarangan siap tanam seluas 26 are dengan jumlah anggota 25 orang seluruhnya
bisa baca tulis. Seluruh anggota telah memiliki sarana produksi seperti: benih sayuran dan pupuk kompos. Materi yang disampaikan fungsi dan
manfaat pebersifat komplementer (melengkapi) dari demplot pemanfaatan pekarangan .
b.
Indikator Proses (process)
Proses berjalannya Sekolah Lapang
(SL) dinamis, partisipatif, antusiasme dan
efektif, dalam pertemuan tersebut tingkat kehadiran mencapai 100 %, anggota
kelompok wanita tani banyak mengajukan pertanyaan maupun menjawab dengan mengutarakan
pengalamannya serta aktif melakukan praktek dalam demplot pekarangan.
c. Indikator Keluaran (outputs)
Indikator keluaran berupa peningkatan pengetahuan pelaku utama responden serta efektifitasnya. Hasil
rekapitulasi dan perhitungan (Lampiran 3) terhadap tingkat pengetahuan
rata-rata responden berdasarkan pencapaian nilai tes awal disajikan Tabel 1.
Tabel 1.
Rata-rata Tingkat Pengetahuan Awal Responden
|
No.
|
Nilai
|
Kategori
|
∑ Responden
(Orang)
|
Rata-rata
|
|
1.
2.
3.
|
15 - 25
26 - 35
36 - 45
|
Kurang
Sedang
Baik
|
25
-
-
|
20,12
|
|
Jumlah
|
25
|
Sumber: Data
Primer Diolah, Tahun 2012.
Tabel
1 menunjukkan
terbatasnya pengetahuan responden dengan kategori kurang diduga
karena kurangnya frekuensi penyuluhan tentang materi pemanfaatan pekarangan dan
jarang dilaksanakan pelaku utama sehingga perlu ditingkatkan melalui penyuluhan. Hasil rekapitulasi dan analisa terhadap perolehan nilai rata-rata tingkat
pengetahuan responden berdasarkan tes akhir (Lampiran 4) disajikan dalam Tabel 2 berikut.
Tabel 2 Rata-rata Tingkat Pengetahuan Akhir Responden
|
No.
|
Nilai
|
Kategori
|
∑ Responden
(Orang)
|
Rata-rata
|
|
1.
2.
3.
|
15 - 25
26 - 35
36 - 45
|
Kurang
Sedang
Baik
|
-
4
21
|
37,72
|
|
Jumlah
|
25
|
Sumber: Data Primer Diolah, Tahun 2012.
Tabel 2
menunjukkan pelaksanaan penyuluhan
menggunakan media folder, yang mudah dibawa kemana, dapat dibaca kembali setiap
kesempatan, mudah dipedomani dan metode kombinasi ceramah, tanya jawab dan demonstrasi
atau peragaan memungkinkan responden untuk
mengingat kembali dan membandingkan
apa yang pernah dialami, bertukar pengalaman dan informasi serta melihat dan mengerjakan langsung demplot pemanfaatan pekarangan sehingga terjadi
proses pembelajaran penerimaan materi /pesan oleh panca indera lebih
maksimal yang menyebabkan terjadinya
peningkatan pengetahuan rata-rata menjadi kategori baik.
Hal
ini sesuai dengan pendapat Totok Mardikanto (1997), bahwa penggunaan metode
penyuluhan kombinasi merupakan metode paling efektif karena sasaran dapat
belajar dan menerima pesan menggunakan
semua panca inderanya. Hasil penelitian Socony Vocum Oil Co dalam
Padmowihardjo (1994), bahwa hasil belajar seseorang sangat ditentukan oleh
penerimaan panca indera. Jika seseorang belajar hanya mendengar saja maka
informasi yang diingat setelah 3 hari sebesar 10 %, hanya melihat saja 20%, hanya mendengar dan
melihat 40 % serta jika mendengar, melihat dan mengerjakan mampu mengingat hingga 70 %.
Berikut hasil evaluasi terhadap
efektifitas peningkatan pengetahuan dan program sekolah lapang (SL) yang telah dilaksanakan ( Lampiran 5 dan 6) dihitung dengan rumus
efektifitas menurut Ginting (2004), disajikan dalam Tabel 5 berikut:
Tabel 5. Rekapitulasi
Nilai Tes Awal dan Tes Akhir, Nilai Peningkatan ,
Nilai Kesenjangan dan Efektifitas Program Penyuluhan (SL)
|
Aspek Perilaku
yang di Ukur
|
∑ PU
(org)
|
∑ Nilai
|
% Efektifitas
|
|||||
|
Tes Awal
|
Tes Akhir
|
Pening katan
|
Max /
Target
|
Kesen
Jang an
|
Pening
katan
|
Prog. Penyu
luhan
|
||
|
Pengetahuan
|
25
|
503
|
943
|
440
|
1.125
|
622
|
70,7
|
83,8
|
Sumber: Data
Primer Diolah, Tahun 2012.
Dari Tabel 5, diketahui
bahwa efektifitas perubahan/peningkatan pengetahuan; dan program
sekolah lapang (SL) yang dilaksanakan mencapai kategori efektif.
Hal ini disebabkan karena ketepatan dalam
mengidentifikasi dan menganalisa keadaan, menetapkan rumusan dan solusi
pemecahan masalah, memilih dan menentukan materi, sasaran, metode, teknik dan
media penyuluhan. Disamping itu penguasaan materi dan teknik berkomunikasi
termasuk bahasa yang mudah dipahami sasaran serta adanya selingan permainan
berupa dinamika kelompok.
d. Indikator Hasil (outcomes)
Setelah dilaksanakan sekolah lapang (SL) dan evaluasi terhadap keluaran, berupa peningkatan pengetahuan pelaku
utama mencoba menerapkan pemanfaatan pekarangan dengan menanam sayuran dan
memelihara ternak unggas dipekarangan sesuai petunjuk penyuluh pendamping, dan menerapkan dalam kehidupan keluarga sehari-hari dalam menyusun menu makanan
berimbang, bergizi dan aman, mampu mengelola hasil panen sayur dan ternak dari
pekarangan serta terus memanfaatkan
sebagai sumber bahan pangan bergizi bagi keluarganya maupun tambahan pendapatan
dari hasil penjualan.
e. Indikator Manfaat (benefits)
Manfaat langsung yang
dapat dirasakan pelaku utama anggota KWT setelah mengikuti SL P2KP adalah bertambahnya wawasan , pengetahuan,
keterampilan serta pengalaman tentang lima (5) manfaat dan fungsi pekarangan, ilmu
gizi dan aneka kreasi pengolahan hasil
ternak dan tanaman serta
penganekaragaman konsumsi pangan.
Kesulitan dalam memenuhi kebutuhan
bahan pangan bergizi mudah didapat dan tersedia setiap saat. Evaluasi penyuluhan (SL) akan lebih valid apabila dilaksanakan secara menyeluruh
dan kompatable terhadap indikator-indikator kinerja mulai dari tahap persiapan
sampai pada dampak jangka panjang.
3.3 Kebun Bibit Desa (KBD)
Luas kebun bibit desa yakni 60 m2
, dengan jenis dan jumlah bibit tanaman yang cukup beragam (terlampir) .
Pengelolaan dilakukan oleh kelompok wanita tani. Pendistribusian dilakukan ke
semua dusun yang memiliki warga dasa wisma dengan jumlah yang merata. Setiap penerima dikenakan kontribusi
finansial sesuai kesepakatan sebagai dana cadangan pengadaan benih dalam rangka
kesinambungan kegiatan setiap musim tanam.
IV
KESIMPULAN DAN RTL
4.1
Kesimpulan
4.1.1 Pelaksanaan optimaslisasi pemanfaatan
pekarangan keluarga oleh anggota KWT Ibu Mandiri dilaksanakan melalui kegiatan
Sekolah Lapang (SL P2KP) dengan media pembelajaran (berlatih) pada demplot
pemanfaatan pekarangan sebagai Laboratorium Lapangan (LL). Materi
pembelajaran mencakup seluruh rangkaian dalam budidaya tanaman sayuran dan
pemeliharaan ternak unggas (ayam) serta materi pendukung peningkatan kapasitas
kelompok. Penggunaan media folder dan
benda sesungguhnya, pada LL , metode cramah, diskusi dan demonstrasi yang dikombinasikan dapat
meningkatkan pengetahuan/keterampilan responden dari kategori kurang menjadi sangat baik Penerapan
Program Penyuluhan Pertanian (Sekolah
Lapang P2KP ) dapat dinyatakan efektif
4.1.2 Kebun bibit desa ( KBD) seluas 60 m2 , berlokasi di lahan
Kantor Desa Taman Indah, dengan jenis dan jumlah tanaman sayuran dan buah
antara laian : (1) Cabe rawit 800 bibit;
(2) Tomat 800 bibit; (3) Terong Panjang
800 bibit; (4) Terong kecil 800 bibit; (5) Paria dan mentimun masing-masing 100
bibit serta (6) Pepaya 300 bibit. Pendistribusian ke semua dusun yang memiliki
kelompok dasa wisma secara merata dengan
kontribusi finansial sesuai kesepakatan sebagai dana cadangan pengadaan benih
musim berikutnya.
4.2
Rencana Tindak Lanjut (RTL)
4.2.1
Menerapkan awig-awig /aturan yang
telah disepakati kelompok
4.2.2
Menyepakati hari pertemuan pengganti jadwal yang tertunda
4.2.3 Melakukan
koordinasi dengan Kepala Dusun dan tokoh
masyarakat
setempat
4.2.4
Mengadakan pendekatan dengan suami (KK) penerima manfaat
4.2.5
Menyebarkan materi dalam bentuk media cetak folder/leaflet
Latar Belakang
a. Konsepsi Pemberdayaan Masyarakat
Pemberdayaan pada hakekatnya adalah upaya pemberian
daya atau peningkatan keberdayaan. Pemberdayaan masyarakat dapat diartikan
sebagai upaya untuk memandirikan masyarakat agar mampu berpartisipasi aktif
dalam segala aspek pembangunan. Kemandirian buka berarti mampu hidup sendiri
tetapi mandiri dalam pengambilan keputusan, yaitu memiliki kemampuan untuk
memilih dan keberanian menolak segala bentuk bantuan dan atau kerjasama yang
tidak menguntungkan.
Dengan pemahaman seperti itu, pemberdayaan dapat
diartikan sebagai proses terencana guna meningkatkan skala/upgrade utilitas dari obyek yang diberdayakan. Karena itu
pemberdayaan masyarakat merupakan upaya untuk terus menerus meningkatkan harkat
dan martabat lapisan masyarakat bawah yang tidak mampu melepaskan diri dari
perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Dalam pengertian sehari-hari,
pemberdayaan masyarakat selalu dikonotasikan sebagai pemberdayaan masyarakat
kelas bawah (grassroots) yang umumnya
dinilai tidak berdaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar